Penyebab Perceraian dari Masa ke Masa

1. Orang ketiga
Hidup berumah tangga tentunya sarat akan godaan pihak ketiga, entah itu PIL (Pria Idaman Lain) atau WIL (Wanita Idaman Lain). Ketidak sempurnaan yang ada di pasangan yang dimiliki oleh orang ketiga biasanya menjadi alasan yang cukup valid untuk seorang berubah menjadi tidak setia pada pasangan aslinya. Ibarat peribahasa "rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput sendiri", rasanya pas ditujukan bagi pasangan yang tergoda dengan pihak ketiga. Keputusan bercerai diambil ketika sudah tidak adanya pintu maaf untuk pihak yang berselingkuh atau bagi pasangan yang memilih untuk meninggalkan pasangannya untuk bersama dengan selingkuhannya.
2. Masalah ekonomi, finansial
Masalah ini cukup rumit dan pelik apabila sudah menyangkut kesejahteraan ekonomi keluarga. Pasangan yang tidak mampu mengelola keuangan seperti suka berjudi, boros, suka berhutang dan lain-lain, rupanya menjadi alasan untuk memutuskan ikatan pernikahan pada pasangan. Dampak masa kini dan masa datang menjadi pertimbangan tersendiri bagi mereka memutuskan untuk berpisah karena alasan keuangan.
3. Permasalahan sebelum menikah
Masalah sebelum permikahan adalah kurangnya mengenal pasangan satu sama lain. Pendekatan yang sangat singkat, baru kenal beberapa bulan langsung menikah atau menikah tanpa pacaran terlebih dahulu. Pasangan yang melewati masa pacaran bertahun-tahun pun cenderung masi terkaget-kaget dengan sikap pasangan yang jauh berbeda sebelum dan sesudah menikah. Maka tidak heran apabila seorang yang baru kenal langsung menikah akan mengalami shock setelah mengetahui karakter pasangan yang tidak terduga. Tidak jarang pasangan memutuskan bercerai dalam usia pernikahan yang cenderung masih dini sebab keakraban belum terjalin antar pasangan. Keakraban tercipta hanya bila terjadi proses pengenalan jangka panjang satu sama lain. Cinta yang instan yang tanpa melalui proses pendekatan tentunya mengalami ketidak tercapaian pada aspek ini sehingga sulit untuk mempertahankan pernikahannya.
4. Kecenderungan hidup sendiri
Hidup pernikahan dibangun oleh dua orang atau sepasang individu yang saling mau membagi diri satu sama lain. Hidup bukan lagi untuk diri sendiri melainkan untuk pasangan. Jika dalam pernikahan terdapat satu orang atau dua-duanya mempunyai sikap yang apatis (masa bodoh) atas kebutuhan pasangan, tentunya pernikahan sulit untuk dipertahankan. Sikap apatis sangat tidak cocok diberlakukan ketika sudah menikah. Apatis yang dimaksud yakni bersikap layaknya seorang yang masih lajang seperti pulang kerja selalu larut malam, nongkrong dengan teman sampai lupa waktu, tidak pulang ke rumah, tidak mengurus isteri/suami dan anak, dll. Anak biasanya menjadi korban dari orangtua yang bersikap demikian. Anak cenderung mencari identitas diri di luar rumah, salah pergaulan dll.
5. Ketidak mampuan merawat pernikahan
Pernikahan merupakan kerja keras dari dua belah pihak yang beritikad untuk merawat pernikahan tsb. Merawat dengan cara tidak mendiamkan masalah, berani berdiskusi secara terbuka, mau memaafkan satu sama lain dan bersedia berubah untuk kebaikan pasangan serta banyak hal lainnya. Demi tercapai itu semua, perlu kemampuan komunikasi dan problem solving yanh baik serta manajemen emosi yang memadai. Mencapai hal tersebut bukanlah hal yang mustahil, namun perlu latihan. Sayangnya, tidak semua pihak menyadari kekurangan dan kelebihannya dengan baik sehingga sulit untuk mengubah apa yang sudah menjadi pola dan kebiasaan yang diberlakukan dalam hubungan pernikahan mereka. Perceraian menjadi pilihan untuk mengakhiri ketidak bahagiaan yang tercipta akibat dari ketidak mampuan merawat pernikahan yang dimiliki oleh masing-masing individu.
6. Pendidikan anak
Tidak sedikit orangtua yang sangat memperhatikan kebutuhan anak. Kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis sangat tidak kondusif jika sudah ada buah hati pada pernikahan tersebut. Pendidikan pertama dalam kehidupan anak yakni berasal dari kedua orangtuanya. Orangtua yang sangat tidak harmonis, penuh cekcok dalam rumah tangga, cenderung memilih untuk mengakhiri pernikahannya secara baik-baik guna meminimalisir dampak psikologis dari ketidak harmonisan orangtua kepada buah hati mereka. Keluarga modern sekarang ini memandang bahwa perceraian memang buruk namun lebih buruk lagi mempertahankan rumah tangga dengan kondisi rumah tangga yang kacau, penuh kebencian satu sama lain sehingga akhirnya mencetak wajah rumah tangga yang tidak kondusif pada benak anak.
7. Sudah tidak ada lagi cinta
Hubungan pernikahan yang hambar, monoton, tidak ada getaran rasa lagi juga menjadi alasan untuk pasangan memutuskan bercerai. Tujuan utama menikah untuk bahagia dan merasakan kehidupan rasanya sudah tidak ada lagi dalam pernikahan pasangan yang seperti ini. Tidak ada gairah untuk melanjutkan pernikahan karena anak-anak sudah besar, lalu berpikir sudah saatnya untuk mencari atau mencapai kebahagiaan pribadi. Pernikahan yang dijalani saat ini juga rerlihat sangat jauh dari gambaran pernikahan ideal yang diimpi-impikan. Perceraian dijadikan pilihan agar tidak membuang-buang waktu yang ada untuk mencari kebahagiaan lain yang ada di luar sana.
8. Tidak cinta
Menikah tidak cinta sangat mungkin terjadi bagi mereka yang dijodohkan atau hamil di luar nikah atau alasan lainnya. Tidak ada ketertarikan yang mendalam yang dirasakan oleh pasangan rupanya menjadi masalah yang cukup pelik. Tidak ada ketertarikan dengan pasangan sangat menyiksa dirasakan terutama ketika berhubungan dalam jangka waktu lama dengan orang tsb. Semakin hari merasa semakin tersiksa dan dirugikan jika tetap berada dalam ikatan pernikahan. Pasangan yang tidak cinta biasanya merasa buang-buang waktu apabila tetap melanjutkan pernikahan. Pasangan yang tidak cinta cenderung mencari pelampiasan dengan hal lain seperti berselingkuh, membuang-buang uang pasangan atau menghabiskan waktu di luar rumah dengan berbagai-bagai kegiatan agar terhindar dari perasaan kosong dan hampa saat berada di rumah dengan orang yang tidak ia cintai. Perceraian menjadi pilihan saat benar-benar tidak ada lagi sarana untuk menutupi perasaan tidak bahagia yang dirasakannya.

Comments

Popular posts from this blog

Pray together, Stay together. Benarkah?

Ini Tandanya Kamu Sukses Jadi Ayah!